FAKTOR apa yang menjadi-kan seseorang bisa meraih ke-suksesan? Jika jawaban dari
pertanyaan itu adalah karena
faktor kesempurnaan fisik, jelas
itu tak sepenuhnya benar. Se-bab tak sedikit orang-orang suk-ses yang sebenarnya memiliki
fisik tidak sempurna, cacat dan
bahkan kurang mendukung un-tuk bisa meraih cita-cita yang
diinginkan, ternyata bisa suk-ses. Dengan harapan hidup, dan
mimpi besar yang ingin mere-ka rengkuh di kelak kemudian
hari, kondisi fisik yang catat itu
ternyata tidak menjadi pengha-lang. Itu tidak lain --karena--
mereka memanfaatkan “kekua-tan” dari potensi otak. Tak
salah, mereka kemudian bisa
melampaui kecacatan fisik dan
bisa merengkuh kesuksesan.
Yamamoto Kansuke (1501-1561), salah seorang ahli state-gi perang Klan Takeda adalah
salah satu contoh. Padahal ia itu
orang catat: buta sebelah dan
pincang. Lebih dari itu, nyaris
tidak ada orang yang melihat
bahwa ia memiliki kelebihan.
Tak salah, jika selama berta-hun-tahun ia ikut Klan Imaga-wa, ia tidak lebih seperti orang
biasa. Bahkan ia dianggap tidak
penting. Tak ubahnya seperti
seorang samurai anak ba wang.
Tapi tatkala datang kesempa-tan ia bisa bergabung untuk
me ngabdi Klan Takeda, dan ia
diangkat menjadi orang keper-cayaan Takeda Harunobu (yang
kemudian dikenal dengan sebu-tan Takeda Shingen), ia justru
bisa menjadi orang penting di
Klan Takeda menjadi ahli strate-gi perang yang membawa keja-yaan klan Takeda. Bendera pe-rang Furin Kazan yang dimiliki
klan Takeda pun berkibar tinggi.
Kansuke memang sosok mis-terius. Tak ada orang yang tahu
akan kelebihan yang ia miliki.
Keahlian Kansuke dalam ber-main pedang pun lebih serupa
legenda karena ia selalu meng-hindar bertempur terang-teran-gan. Tetapi, Takeda Harunobu
telah membuktikan akan ke-benaran sebuah fakta: bawah
Kansuke memiliki wawasan dan
pengetahuan luas soal strategi
perang. Beberapa kali, Takeda
Harunobu harus mengakui bah-wa otak Kansuke cukup cerdik.
Sebab, Kansuke bisa mengubah
kebuntuan perang menjadi se-buah kemenangan. Strategi
penundukan benteng Toshi, per-ang melawan Kiso, Ina, Joshua,
Bushu dan benteng-benteng lain
menjadi bukti nyata bahwa Kan-suke bukan sembarang orang,
melainkan sang arsitek perang
tangguh dan jeli. Juga cerdik.
Kejayaan klan Takeda pun
mencapai prestasi gemilang
setelah Kansuke menjadi ahli
strategi perang Takeda Haru-nobu. Tetapi soal perang demi
memperluas daerah kekuasaan,
memang benar tidak akan per-nah ada habisnya.
Habis perang menundukkan
daerah satu, “ambisi” mengua-sai daerah lain pun menjadi
target selanjutnya. Hal itulah,
yang menjadikan klan Takeda
pun harus berhadapan dengan
klan Uesugi. Bahkan keduanya
sudah seperti musuh bebuyu-tan. Bertahun-tahun berperang
nyaris tidak pernah menjadi
perang akhir sebagai titik a khir
penghabisan. Hingga suatu ke-tika, kedua klan itu berte-mu dalam perang besar. Kare-na itulah, Kansuke sedari awal
merancang perang itu menjadi
perang terakhir yang akan ia
dalangi sebelum ia tutup usia
karena lanjut tua.
Tak ada alasan lain jika ia
tidak berjuang habis-habisan.
Dalam perang penentuan itu
pun, Kansuke benar-benar
mempertaruhkan semua yang
ia kuasai. Dia pun seperti ber-juang melawan nasib. Kemam-puannya dalam mengatur, dan
menyusun strategi perang ia
kerahkan sepenuhnya. Dalam
sejumlah pertempuran sebe-lumnya ia memang selalu suk-ses menguncang benteng lawan
dan bisa meraih kemenangan
femilang. Tetapi, kali ini yang di-hadapi adalah Uesugi. Pertem-puran ini pun dicatat sejarah se-bagai perang besar pada masa
klan Takeda.
Tak pelak, jika novel ini pun
menjadi sebuah novel sejarah
dengan tokoh utama Yamamo-to Kansuke. Sosok Kansuke
yang misterius, juga fenomenal,
menjadi daya tarik dari novel ini.
Maklum, ia bukan orang yang
dianugerahi kelebihan fisik sem-purna, tetapi dalam sepak ter-jangnya dia berhasil mengukir
prestasi gemilang: tercatat seba-gai seorang “ahli strategi perang
brilian” yang dimiliki klan Take-da. Dari sepak terjang Kansuke
itu, pembaca bisa belajar ba-nyak tentang pelajaran hidup
dan perjuangan dalam menapa-ki masa depan demi meraih ci-ta-cita. (N Mursidi, cerpenis ting-gal di Jakarta)
pertanyaan itu adalah karena
faktor kesempurnaan fisik, jelas
itu tak sepenuhnya benar. Se-bab tak sedikit orang-orang suk-ses yang sebenarnya memiliki
fisik tidak sempurna, cacat dan
bahkan kurang mendukung un-tuk bisa meraih cita-cita yang
diinginkan, ternyata bisa suk-ses. Dengan harapan hidup, dan
mimpi besar yang ingin mere-ka rengkuh di kelak kemudian
hari, kondisi fisik yang catat itu
ternyata tidak menjadi pengha-lang. Itu tidak lain --karena--
mereka memanfaatkan “kekua-tan” dari potensi otak. Tak
salah, mereka kemudian bisa
melampaui kecacatan fisik dan
bisa merengkuh kesuksesan.
Yamamoto Kansuke (1501-1561), salah seorang ahli state-gi perang Klan Takeda adalah
salah satu contoh. Padahal ia itu
orang catat: buta sebelah dan
pincang. Lebih dari itu, nyaris
tidak ada orang yang melihat
bahwa ia memiliki kelebihan.
Tak salah, jika selama berta-hun-tahun ia ikut Klan Imaga-wa, ia tidak lebih seperti orang
biasa. Bahkan ia dianggap tidak
penting. Tak ubahnya seperti
seorang samurai anak ba wang.
Tapi tatkala datang kesempa-tan ia bisa bergabung untuk
me ngabdi Klan Takeda, dan ia
diangkat menjadi orang keper-cayaan Takeda Harunobu (yang
kemudian dikenal dengan sebu-tan Takeda Shingen), ia justru
bisa menjadi orang penting di
Klan Takeda menjadi ahli strate-gi perang yang membawa keja-yaan klan Takeda. Bendera pe-rang Furin Kazan yang dimiliki
klan Takeda pun berkibar tinggi.
Kansuke memang sosok mis-terius. Tak ada orang yang tahu
akan kelebihan yang ia miliki.
Keahlian Kansuke dalam ber-main pedang pun lebih serupa
legenda karena ia selalu meng-hindar bertempur terang-teran-gan. Tetapi, Takeda Harunobu
telah membuktikan akan ke-benaran sebuah fakta: bawah
Kansuke memiliki wawasan dan
pengetahuan luas soal strategi
perang. Beberapa kali, Takeda
Harunobu harus mengakui bah-wa otak Kansuke cukup cerdik.
Sebab, Kansuke bisa mengubah
kebuntuan perang menjadi se-buah kemenangan. Strategi
penundukan benteng Toshi, per-ang melawan Kiso, Ina, Joshua,
Bushu dan benteng-benteng lain
menjadi bukti nyata bahwa Kan-suke bukan sembarang orang,
melainkan sang arsitek perang
tangguh dan jeli. Juga cerdik.
Kejayaan klan Takeda pun
mencapai prestasi gemilang
setelah Kansuke menjadi ahli
strategi perang Takeda Haru-nobu. Tetapi soal perang demi
memperluas daerah kekuasaan,
memang benar tidak akan per-nah ada habisnya.
Habis perang menundukkan
daerah satu, “ambisi” mengua-sai daerah lain pun menjadi
target selanjutnya. Hal itulah,
yang menjadikan klan Takeda
pun harus berhadapan dengan
klan Uesugi. Bahkan keduanya
sudah seperti musuh bebuyu-tan. Bertahun-tahun berperang
nyaris tidak pernah menjadi
perang akhir sebagai titik a khir
penghabisan. Hingga suatu ke-tika, kedua klan itu berte-mu dalam perang besar. Kare-na itulah, Kansuke sedari awal
merancang perang itu menjadi
perang terakhir yang akan ia
dalangi sebelum ia tutup usia
karena lanjut tua.
Tak ada alasan lain jika ia
tidak berjuang habis-habisan.
Dalam perang penentuan itu
pun, Kansuke benar-benar
mempertaruhkan semua yang
ia kuasai. Dia pun seperti ber-juang melawan nasib. Kemam-puannya dalam mengatur, dan
menyusun strategi perang ia
kerahkan sepenuhnya. Dalam
sejumlah pertempuran sebe-lumnya ia memang selalu suk-ses menguncang benteng lawan
dan bisa meraih kemenangan
femilang. Tetapi, kali ini yang di-hadapi adalah Uesugi. Pertem-puran ini pun dicatat sejarah se-bagai perang besar pada masa
klan Takeda.
Tak pelak, jika novel ini pun
menjadi sebuah novel sejarah
dengan tokoh utama Yamamo-to Kansuke. Sosok Kansuke
yang misterius, juga fenomenal,
menjadi daya tarik dari novel ini.
Maklum, ia bukan orang yang
dianugerahi kelebihan fisik sem-purna, tetapi dalam sepak ter-jangnya dia berhasil mengukir
prestasi gemilang: tercatat seba-gai seorang “ahli strategi perang
brilian” yang dimiliki klan Take-da. Dari sepak terjang Kansuke
itu, pembaca bisa belajar ba-nyak tentang pelajaran hidup
dan perjuangan dalam menapa-ki masa depan demi meraih ci-ta-cita. (N Mursidi, cerpenis ting-gal di Jakarta)













